Sunday, November 12, 2006

Séjour à la Préfecture










Y' a pas que des cries d'enfants... mais d'adultes aussi...




Tangisan anak kecil yang letih dan teriakan orang dewasa yang kecewa...
rasa lapar dan kebosanan menunggu dan menunggu...
seperti tahun-tahun kemarin, atmosfer di prefektur kota Marseille tak berubah... dan sistemnya masih... fatiguant... melelahkan.

Setiap warga negara asing yang tinggal di Prancis harus melewati kantor prefektur (Pf.).
Untuk mahasiswa asing, ijin tinggal yang dikeluarkan dalam bentuk "carte de séjour" harus diurus setiap tahun. Sebagai mahasiswa, kita diijinkan tinggal hanya jika terdaftar di universitas... sehingga setiap tahun, kita akan melewati drama yang sama di kantor ini.













"Monsieur prefecture" juga manusia.

Aku membayangkan kalau berada di pihak prefektur itu sendiri, pasti bukan hal yang mudah untuk mengurus semua "orang asing". Mengurus warna negara sendiri saja sudah sulit, apalagi yang datang dari negara lain, dan tidak sedikit yang belum bisa berbahasa Prancis.
Setiap hari menghadapi orang dengan berbagai latar belakang yang berbeda... kalau tidak memaki, mungkin juga dimaki. Salah pengertian juga tentunya hal yang sulit untuk dihindari. Jadi, jangan heran kalau kita tidak dilayani dengan lemah lembut.
Pengalamanku sendiri, dalam 5 kali berurusan dengan mereka, sepertinya belum pernah mendapat perlakuan yang kurang menyenangkan. Bahkan, suatu hari aku kembali ke guichet dengan satu bungkusan hiasan batik yang kudapatkan dari Pasaraya dan ucapan terima kasih untuk seorang madame yang melayaniku dengan ramah dan senyuman. Bukan bermaksud untuk "nyogok", karna tahun berikutnya, aku dilayani pegawai yang lain, dan tidak menghubungi madame tersebut.
Pada dasarnya, jika dokumen kita tepat dan lengkap, pasti tidak ada masalah. Yang jadi masalah adalah "waktu", prosesusnya terkadang sangat lama sedangkan surat sakti itu sudah sangat urgent. Misalnya kala kita harus keluar dari wilayah uni-eropah, tanpa surat sakti ini, kita pasti akan menemui masalah.


Récépisé de demande de la carte de séjour (
RCS-)

Dokumen ini dapat kita gunakan untuk "menemani" carte de séjour
(CS) yang sudah habis masa berlakunya. Dengan dokumen ini, kita diijinkan untuk masuk/keluar wilayah uni Eropa.

Waktu tercepat mendapatkan
RCS- sesuai pengalamanku adalah 4 minggu sesudah pengiriman, dan waktu terlama... hmmm... kalau nggak di cek lagi, bisa sampai 5 bulan lho!
Jadi, kalau sudah lebih dari 2 bulan, sebaiknya di-cek kembali ke kantor
Pf. Seperti yang Parabelem, Gusnaedy dan aku lakukan hari rabu, tanggal 8 november yang lalu…


Une journée infernale...

Pagi itu, Parabelem berangkat lebih pagi. Jam 8.30, antrian untuk pengambilan nomor guichet sudah panjang. Tiga lembar nomor yang di "mandat"kan Gusnaedy semalam berhasil didapatkan-nya sesudah 3 kali antri. Hanya satu lembar nomor diijinkan untuk satu peng-antri. Gusnaedy tiba setengah jam sesudah itu. Aku tiba jam 10 karna harus membuat beberapa fotokopi dokumen yang diminta
Pf..
Tujuan kami sama, ingin mendapatkan
RCS- surat sakti yang menggantikan sementara peranan carte de séjour.

Carte séjour (CS) étudiant ini biasanya habis masa berlakunya setiap tanggal 31 oktober, yang pasti sesudah masa tahun ajaran selesai. Fungsinya adalah sebagai kartu identitas di Prancis. Dengan kartu ini, kita sudah dianggap "penduduk" negara Prancis dan mendapatkan hak sebagai "mahasiswa asing di Prancis".
Kami belum mendapatkan
RCS- itu walaupun semua dokumen sudah dikirim lebih dari 2 bulan yang lalu.



Masih ada sekitar 70 orang sebelum kami yang mengantri tapi kami tidak berani keluar dari kantor
Pf karna beberapa kali ada nomor yang dilewati, mungkin mereka tidak tahan lagi menunggu. Jika kami absen dan nomor terlewat... nggak akan ada kesempatan lagi kecuali mengambil kembali nomor baru atau kembali besok pagi dengan rithme yang sama! Lapar... karna akhirnya jam makan siang lewat... aku sempatkan keluar sebentar, membeli roti dan minuman dan kami harus terus menunggu.

Alasan kami nekad ke kantor
Pf karna:

Parabelem belum mendapatkan Avis de réception (AR) yang seharusnya dia dapatkan beberapa hari sesudah pengiriman dokumen.

Gusnaedy sudah mendapatkan AR tapi RCS-nya belum juga dia terima.

Aku, sama dengan Gusnaedy, sudah mendapatkan AR tapi RCS-nya belum juga ku terima padahal aku harus meninggalkan Prancis dalam waktu dekat ini.


"Avis de Récéption" atau "Accusé de Récéption" adalah bukti tanda terima dari kantor pos, bahwa dokumen sudah diterima alamat yang dituju.

Akhirnya, sekitar jam 3 sore, setelah 6 jam menunggu, nomor Parabelem dipanggil; setelah 5 menit, dia keluar dari Guichet dan dari raut wajahnya... tersenyum



p1070506.jpg
---"Dapat?" tanyaku dan Gusnaedy hampir bersamaan
---"Hilang!" katanya, tapi dengan senyum...

...Gusnaedy dan aku mengerutkan dahi...

---"Kata mereka dossier-ku hilang, tapi mereka langsung memberikan formulir lain untuk diisi dan memasukan kembali semua dokumen tanpa harus antri lagi. Untunglah semua dokumen aku bawa he he he... jadi bisa aku masukkan sekarang sajalah."

Setelah semua dokumen dilengkapi dan formulir diisi kembali, Parabelem akhirnya berhasil mendapatkan
RCS-nya kembali tanpa harus antri dari awal.



Ternyata alasan yang sama juga untuk Gusnaedy... walaupun sudah ada AR
dokumen-nya dinyatakan "hilang". Kali ini wajahnya ungu kemerahan karna kecewa dan marah... masalahnya, dia tidak membawa semua dokumen yang dibutuhkan, hanya passport dan carte de séjour.
Gusnaedy masih bersungut, giliran nomorku dipanggil.

Sesuai dengan pembicaraan ditelpon dengan seorang pegawai di Pf sehari sebelumnya, aku membawa semua dokumen yang diminta. Mereka tidak memberikan alasan "hilang", tetapi yang kami lakukan adalah memasukan kembali semua dokumen yang dibutuhkan.
Donc... artinya sama saja dengan kedua colegue-ku tadi...

Kesimpulan-ku... sebenarnya dokumen kita ada, tidak ada yang hilang, tapi yang jelas mereka enggan untuk membongkar semua dokumen yang pasti ratusan banyaknya. Berapa banyak waktu mereka akan hilang hanya untuk mencari dokumen si Parabelem atau Gusnaedy yang tertutup di dalam amplop? Akan lebih mudah meminta kita untuk memasukkan kembali dokumen baru, apalagi kalau data kita sudah ada di komputer mereka karna sudah perpanjangan untuk kesekian kalinya. Buktinya tempat lahirku yang sudah kuperbaiki pada formulir permintaan kedua masih tetap salah walaupun sudah permintaan ke-empat, masih tertulis "Tomotton" seperti permintaan pertama...

Pengalaman beberapa teman, walaupun kita sudah mendapatkan
RCS dengan cara ini, terkadang dossier kita sebelumnya tetap diolah, dan akhirnya ada RCS yang sama yang akan dikirim ke alamat kita...

Akhirnya aku-pun berhasil mendapatkan surat sakti ini... dengan sedikit pesan... "kalau anda kembali untuk mengambil carte de séjour, tolong lengkapi dengan kartu mahasiswa definitive ya...". Monsieur P yang melayaniku menjelasnya dengan baik plus senyum… Alors, pour l’instant… elle est pas belle la vie?

  • Proses pendaftaran di universitas Aix-Marseille memang bukan prosedur yang singkat. Banyak meja yang harus dilewati oleh dokument kita (tetapi untungnya sistemnya tidak sama dengan di Indonesia :D). Hanya dibutuhkan kesabaran, bukan bayaran untuk semua meja yang dilewati. Pembayarannya-pun dilakukan dengan cheque yang mengatas-namakan institusi bukan pribadi. Kita akan resmi terdaftar, mendapatkan kartu mahasiswa sekitar bulan desember. Batas akhir pembayaran biasanya sampai tanggal 22 desember.
Kembali ke atmosfer Pf yang tetap saja diwarnai dengan histeris , seperti di loket sebelahku… Entah surat apa yang belum bisa dia penuhi, bapak yang sedang dilayani di loket sebelah berbicara dengan nada tinggi… lebih tepat marah2 sambil berteriak. Kalau sudah seperti ini, sepertinya orang dibalik loket juga hanya menunggu… sebelum menjelaskan… atau seperti yang dialami seorang teman yang lain, dokumennya dilempar keluar.

Gusnaedy yang sudah putus asa, akhirnya mampu di"bangkitkan" semangatnya oleh Parabelem...

"Bravo Belem!!!"

Matanya yang berkedap-kedip saat menjelaskan pada Gusnaedy telah membangkitkan semangat bang "Marpongge" ini.
Dia nekad membuat pas-foto yang tersedia di prefektur, fotokopi dokumen yang ada, hanya passport dan carte de séjour tahun sebelumnya dan mengisi formulir baru... dan langsung nyosor masuk ke guichet.

Eeeh... ternyata Monsieur Pf mau terima juga!!!

Nah lho...

Mereka langsung membuatkan satu
RCS, menempel foto... dan detik-detik penantian kami sampai waktu menunjukkan hampir jam 4 sore... dari microfon...

"Monsieur Marpongge, au guichet 7 s'il vous plaît".

Dengan penuh semangat Gusnaedy masuk ke guichet... dan dia kembali... tapi dengan wajah merah keunguan juga...

"Dia bilang... désolé monsieur, votre
RCS est pret, mais notre responsable qui doit signer est déja parti... vous revenez demain matin, pas besoin la queue, vous me cherchez... itu katanya si gemuk" Si gemuk... adalah monsieur di guichet 7.
  • (maaf pak, RCS sudah siap tetapi penanggung jawab kami yang seharusnya tanda tangani RCS ini sudah pulang... anda kembali besok pagi saja ya, tanpa antri dan langsung menemui saya)

Ben oui... jam 4 sore prefektur tutup euy...

"Ya sudahlah, yang penting besok so pasti ngana mo dapa tu
RCS toh?" Kata Parabelem dengan dua mata berkedap-kedip bak ikan mas koki dan logat Manado-nya yang sekental tinutuan... lol

Anda akan berurusan dengan prefektur? (khususnya Marseille)...
  1. Pengambilan carte de séjour yang sudah lengkap dengan convocation bisa dilakukan di loket 10 tanpa harus mengambil nomor antri.
  2. Urusan di luar point 1, harus bangun pagi-pagi, antri untuk ambil nomor jam 8 pagi.
  3. Korbankan satu hari, tanpa rendezvous dengan pihak lain... sehari demi monsieur prefektur
  4. Jangan lupa membawa: bekal makanan/ minuman untuk makan siang, camilan, buku/ majalah bacaan, teka-teki silang, atau apa saja untuk mengisi waktu karna ditanggung membosanken.
  5. Bawa semua berkas penting yang biasanya diminta oleh prefektur walapun sudah pernah dikirim... fotokopi passport, carte séjour terakhir, attestation d'hebergement, facture EDF atau France télécom, pasfoto 3 lembar, attestation dari profesor untuk menjelaskan bahwa masih akan melanjutkan study, attestation dari profesor kalau sedang dalam proses pendaftaran atau kartu mahasiswa kalau sudah ada, AR atau bukti pengiriman dari kantor pos.
  6. Sabar ya...
Bon courage!
Vany
mailto:m00manguni-blogvivany@yahoo.fr



Labels: , ,


Baca selanjutnya!

Thursday, September 07, 2006

Kiat khusus supaya bisa mendapatkan beasiswa pemerintah Prancis

Pemerintah Prancis memberikan beasiswa untuk orang Indonesia yang mau melanjutkan study di Prancis.
Biasanya, pendaftaran ditutup sekitar bulan september. Tahun ini, 2006, mereka membuka kesempatan penerimaan berkas pendaftaran sampai tanggal 29 september.
Formulirnya bisa diminta langsung ke bagian SCAC, Service de Coopération et d’Action Culturelle (SCAC)

35 Jalan Panarukan, Menteng
Jakarta 10310
Tél. : (62-21) 31 93 17 95
Fax : (62-21) 310 37 47
Mel : cultujkt@uninet.net.id


atau juga dapat di download di situs SCAC.

Biasanya, mereka mempelajari berkas yang masuk, kalau sesuai dengan prioritas program pemberian bea siswa dan kriteria lainnya (kalo itu aku nggak tau :D); mereka akan memanggil calon penerima beasiswa untuk diwawancarai.
Tapi ingat, mereka hanya mengundang untuk diwawancarai, jadi belum ada kepastian untuk mendapatkan beasiswa tersebut. Transportasi dan akomodasi untuk panggilan wawancara ini tidak akan dibiayai.

Kalau sampai akhir desember belum ada panggilan berarti anda belum beruntung

Lalu kiatnya apa supaya bisa dapat beasiswa?

hmmm... sebenarnya aku nggak punya kiat khusus dulunya... :">

Tapi, sewaktu mendaftar, sudah ada profesor di salah satu universitas di Prancis yang menerimaku sebagai mahasiswa bimbingannya.
Attestation dari profesor ini aku masukkan ke dalam berkasku.

Apakah ini salah satu alasan?

Kemungkinan ya.

Tapi, ternyata, setelah bertemu dengan rekan penerima beasiswa yang lain pada saat kursus bahasa Prancis selama kurang lebih 5 bulan, ternyata masih ada sebagian temans yang belum mempunyai profesor pembimbing. Jadi, sepertinya bukanlah merupakan satu syarat mutlak waktu itu, tapiii... sebaiknya ada.
Dan lagi, kalau akhirnya kita tidak bisa menemukan profesor pembimbing sampai waktu keberangkatan tiba, otomatis, tidak bisa diberangkatkan dan bisa saja beasiswa ini dibatalkan.

Bagaimana caranya untuk bisa mendapatkan informasi tentang profesor atau universitas di Prancis?

Mencoba mengirim email ke atau bertanya pada kenalan mahasiswa Indonesia di Prancis atau alumninya. Sayangnya aku belum tahu kalau sudah ada mahasiswa/alumni Prancis. Kalau ada, nanti saya cantumkan di blog ini.
Cari informasi melalui situs edufrance atau... Googling aja deh!Bagaimana dengan wawancaranya?

hmmm... waktu itu mereka menanyakan hal-hal seputaran proposal penelitianku. Pada awal wawancara mereka menawarkan bahasa yang akan digunakan... Indonesia, Inggris atau Prancis. Kalau sudah bisa berbahasa Prancis, atau sedikit-sedikit, cobalah usahakan dipakai. Biar pewawancaranya tahu kalau kamu "ada usaha" dan tertarik dengan "Prancis" getooo loooo...

Termasuk kalau punya pacar orang Prancis?

Hmmm... ca ne rien avoir... he he he...
Gak usah cari beasiswa deh qualo gitou... bisa dapat BPF***

A+ yuuuuuuk
Maaf kalo becandanya kelewatan en kurang berkenan...


Baca selanjutnya!

Friday, August 11, 2006

“Bidang anda tidak sesuai dengan prioritas kami…”

...Bidang anda tidak sesuai dengan prioritas kami…”

Kalau berbicara tentang study ke Prancis, aku nggak akan pernah lupa dengan kalimat di atas…

Suatu pagi di Jakarta… aku menangis sedih…


Aku ingat kalimat sebelumnya, dari suara yang sama sebelum berangkat ke Jakarta.
Di pagi yang sejuk itu aku menerima telpon dari SCAC Jakarta…

“Anda kami undang untuk wawancara”.

Hampir tak percaya ternyata berkas ku untuk mendaftar sebagai calon penerima beasiswa dari kedutaan Prancis di Jakarta lolos seleksi untuk wawancara…
Baru wawancara sih… tapi awal yang bagus kan…
Lalu, tiba-tiba terpikir tentang masalah transportasi untuk ke Jakarta.
Apakah mereka akan membantu saya?

“Yah… mungkin sebaiknya anda pikirkan juga hal itu.
Kami tidak memiliki dana untuk transportasi para calon yang akan diwawancarai.
Memang Jakarta jauh dari tempat tinggal anda, dan biaya pesawat nya mahal.
Dan lagi, anda belum tentu akan mendapatkan beasiswa itu”

Jawaban dari Monsieur R… membuatku menimbang-nimbang kembali niatku untuk wawancara.
Tapi itu adalah kesempatan yang mungkin nggak akan datang keduakali.
Harga tiket mahal... jauh lebih mahal daripada gajiku sebulan.

Akhirnya, dengan usaha pinjam sana-sini, aku bisa mendapatkan tiket ke Jakarta.

Suatu pagi di Jakarta… aku menangis sedih…

Kutelpon Monsieur R… di kantornya,
Kutanyakan, jam berapa namaku dijadwalkan untuk wawancara…

“Hmmm… kami sudah mempelajari berkas anda, ternyata bidang anda tidak sesuai dengan prioritas kami.
Jadi wawancara kami batalkan.”

Gubraakkkk!!!

“Hah??!!??” Sejenak aku terpana…

“Tapi aku sudah di Jakarta! Mengapa anda baru mengatakannya sekarang? Saya justru sudah siap pergi ke kantor anda”

“Oh!!??... sebentar…”

Beberapa menit, tak ada suara… sepertinya Monsieur R… meletakkan gagang telpon dan berdiskusi dengan seseorang.

“Ok. Kalau begitu, kami akan pelajari lagi berkas anda, dan tolong hubungi saya kembali jam 2 siang ini.”

Aku nggak habis pikir… bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi?

Sesudah makan siang, aku nggak mau jauh dari telpon. Dan jam 2 pil poil… ku telpon lagi Monsieur R…

“Anda bisa datang jam 3 sore?”

Akh... sejam lagi…
“OK. Aku di sana jam 3 sore”

Pertama kali ke SCAC Jl.Panarukan… taksi yang kutumpangi berkeliling kota… oufs…

Jam 3 sore… di kantor SCAC sudah ada 2 orang gadis yang antri…
Mereka keliatan sangat percaya diri dan cantik-cantik pula :D
Mudah-mudahan "kecantikan" bukan salah satu kriteria... ^_^

Ternyata aku masih harus menunggu… menunggu…
Hampir jam 5 sore… tinggallah aku sendiri di ruang tunggu,
Monsieur R… muncul memperkenalkan dirinya dan mengajakku ke ruang wawancara.
Di situ sudah menunggu "Harry Potter" dan Monsieur G.
Kuperkenalkan diri… dan mereka mulai bertanya tentang bidang ilmu dan proposal penelitianku; termasuk juga “attestation” dari profesor yang sudah bersedia menjadi pembimbingku.
Entah berapa lama wawancara itu berlangsung, setelah bersalaman tanda wawancara selesai, hari telah lewat senja…

Jakarta direngkuh malam…

Kuserahkan hasil wawancara itu pada keputusan si Monsieurs R, G, Harry Potter… dan ijin Tuhan…

Yang terpenting bagiku waktu itu… kedatanganku ke Jakarta tidak sia-sia…

Aku “berhasil” diwawancarai.

“Bidang anda tidak sesuai dengan prioritas kami…”

Ternyata kalimat itu tidak berlaku lagi… ketika suatu hari di bulan desember Ibu Ida dengan suara lembutnya mengabarkan bahwa aku diundang untuk mengikuti kursus bahasa Prancis di CCF Salemba Jakarta.

Kesempatan itu kuraih.


Aku dapat beasiswa!


Vany - BGF 2002


Email@Vany

Baca selanjutnya!